KEPEMIMPINAN ADAT MELAYU
Dalam struktur bahasa Melayu, imbuhan 'pe' atau
'po' yang disandangkan pada diksi 'pimpin' (pemimpin atau pomimpin) bermakna;
orang yang mempunyai sifat 'suka' dalam hal suka menolong (soal kesulitan),
suka membantu (soal dukungan moril dan materil), suka memberi petunjuk (soal
ilmu pengetahuan).
Seorang pemimpin dalam tradisi Melayu adalah sosok
manusia yang lebih daripada lainnya, sakti, kuat, gigih, dan tahu banyak hal.
Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yag jumlahnya sedikit, namun
perannya dalam suatu komunitas (suku, bangsa, negara) merupakan penentu
keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai.
Bahkan di masa lalu, seorang pemimpin bangsa
Melayu juga haruslah sosok yang sakti mandraguna demi melindungi wilayah dan
rakyatnya dari ganguan binatang buas, penjahat, penjajah dan makhluk halus
(jin, siluman, setan, dll). Karena itulah, para pemimpin yang sejati juga
merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu
komunitas orang Melayu menjadi penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang
hendak dicapai bersama.
Sejarah telah membuktikan bahwa kepemimpinan
raja-raja masyarakat Melayu pernah mengalami masa kejayaannya. Perdagangan yang
dijalankan oleh masyarakat Melayu mampu merambah berbagai belahan dunia pada
masanya. Bahkan pada era Sultan Iskandar Muda berkuasa di Aceh, kerajaan Aceh
termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya,
Malayu-Jambi, Aceh dan Malaka tak dapat dipungkiri menjadi tonggak kebesaran
rumpun Melayu. Semua itu tidak bisa terjadi kecuali kepemimpinan dalam tradisi
Melayu saat itu sudah memiliki jati diri yang kuat, mampu menyesuaikan diri
terhadap perubahan, berdaya tahan tinggi dan berperan aktif dalam kesinambungan
kehidupan bangsa.
Sejarah Melayu juga banyak mencatatkan kearifan
kepemimpinan dalam perspektif budaya Melayu. Sehingga ditengah krisis
kepemimpinan yang melanda negeri ini, sebenarnya tradisi budaya Melayu sejak
dahulu telah menawarkan model kepemimpinan yang kiranya pas untuk Indonesia di
tengah masalah yang kerap dihadapi saat ini. Dan jika melihat sifat pemimpin
ideal yang ada dalam tradisi budaya Melayu, maka akan sangat relevan dengan
model kepemimpinan transformasional pada masa kini. Kepemimpinan
transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses
pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar