Minggu, 29 April 2018

KEPEMIMPINAN ADAT MELAYU


KEPEMIMPINAN ADAT MELAYU

                                        
Dalam struktur bahasa Melayu, imbuhan 'pe' atau 'po' yang disandangkan pada diksi 'pimpin' (pemimpin atau pomimpin) bermakna; orang yang mempunyai sifat 'suka' dalam hal suka menolong (soal kesulitan), suka membantu (soal dukungan moril dan materil), suka memberi petunjuk (soal ilmu pengetahuan).
Seorang pemimpin dalam tradisi Melayu adalah sosok manusia yang lebih daripada lainnya, sakti, kuat, gigih, dan tahu banyak hal. Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yag jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas (suku, bangsa, negara) merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai.
Bahkan di masa lalu, seorang pemimpin bangsa Melayu juga haruslah sosok yang sakti mandraguna demi melindungi wilayah dan rakyatnya dari ganguan binatang buas, penjahat, penjajah dan makhluk halus (jin, siluman, setan, dll). Karena itulah, para pemimpin yang sejati juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas orang Melayu menjadi penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai bersama.
Sejarah telah membuktikan bahwa kepemimpinan raja-raja masyarakat Melayu pernah mengalami masa kejayaannya. Perdagangan yang dijalankan oleh masyarakat Melayu mampu merambah berbagai belahan dunia pada masanya. Bahkan pada era Sultan Iskandar Muda berkuasa di Aceh, kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, Malayu-Jambi, Aceh dan Malaka tak dapat dipungkiri menjadi tonggak kebesaran rumpun Melayu. Semua itu tidak bisa terjadi kecuali kepemimpinan dalam tradisi Melayu saat itu sudah memiliki jati diri yang kuat, mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, berdaya tahan tinggi dan berperan aktif dalam kesinambungan kehidupan bangsa.
Sejarah Melayu juga banyak mencatatkan kearifan kepemimpinan dalam perspektif budaya Melayu. Sehingga ditengah krisis kepemimpinan yang melanda negeri ini, sebenarnya tradisi budaya Melayu sejak dahulu telah menawarkan model kepemimpinan yang kiranya pas untuk Indonesia di tengah masalah yang kerap dihadapi saat ini. Dan jika melihat sifat pemimpin ideal yang ada dalam tradisi budaya Melayu, maka akan sangat relevan dengan model kepemimpinan transformasional pada masa kini. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab.